Monthly Archives: April 2008

Muhammad Yunus dan Grameen Bank

Komite Nobel Norwegia telah menetapkan penghargaan Nobel Perdamaian pada dua bagian yaitu pada Muhammad Yunus dan juga Grameen Bank untuk usaha-usaha mereka dalam menciptakan pengembangan ekonomi dan sosial dari masyarakat kelas bawah. “Kedamaian yang berkelanjutan tidak akan bisa dicapai kecuali kelompok besar populasi menemukan cara untuk menanggulangi kemiskinan.”

Muhammad Yunus

Muhammad Yunus

Yunus lahir di Chittagong, dan belajar di Chittagong Collegiate School dan Chittagong College. Kemudian ia melanjutkan ke jenjang Ph.D. di bidang ekonomi di Universitas Vanderbilt pada tahun 1969. Selesai kuliah, ia bekerja di Universitas Chittagong sebagai dosen di bidang ekonomi. Saat Bangladesh mengalami bencana kelaparan pada tahun 1974, Yunus terjun langsung memerangi kemiskinan dengan cara memberikan pinjaman skala kecil kepada mereka yang sangat membutuhkannya. Ia yakin bahwa pinjaman yang sangat kecil tersebut dapat membuat perubahan yang besar terhadap kemampuan kaum miskin untuk bertahan hidup.
Pada tahun 1976, Yunus mendirikan Grameen Bank yang memberi pinjaman pada kaum miskin di Bangladesh. Hinggal saat ini, Grameen Bank telah menyalurkan pinjaman lebih dari 3 miliar dolar ke sekitar 2,4 juta peminjam. Untuk menjamin pembayaran utang, Grameen Bank menggunakan sistem “kelompok solidaritas”. Kelompok-kelompok ini mengajukan permohonan pinjaman bersama-sama, dan setiap anggotanya berfungsi sebagai penjamin anggota lainnya, sehingga mereka dapat berkembang bersama-sama. Kredit mikro adalah salah satu sarana pengembangan dari kelas bawah yang juga termasuk di dalamnya melayani pengembangan demokrasi dan hak asasi manusia.

Yunus and Society                         Yunus outside
Muhammad Yunus telah menunjukkan dirinya menjadi pemimpin yang sukses menerjemahkan visi pada aksi nyata untuk keuntungan jutaan orang, tidak hanya di Bangladesh tetap juga di negara lain. Pinjaman pada masyarakat miskin tanpa jaminan financial adalah hal yang mustahil untuk diterapkan. Namun, Yunus melalui Grameen Bank mengembangkan ekonomi kredit mikro sebagai instrument terpenting dalam perlawanan menanggulangi kemiskinan. Grameen Bank telah menjadi sumber ide dan model untuk beberapa institusi pada lahan kredit mikro yang menjamur di berbagai belahan dunia.

Setiap pribadi individual di bumi ini memiliki kedua bentuk potensi dan juga hak untuk hidup sejahtera. Dengan melintasi budaya dan negara, Yunus dan Grameen Bank telah menunjukkan bahwa bahkan bagian termiskin dari masyarakat miskin pun dapat bekerja menciptakan pengembangan bagi diri mereka sendiri.

Kredit mikro telah membuktikan dirinya sebagai usaha penting dalam masyarakat dimana perempuan harus berjuang melawan tekanan sodial dan kondisi ekonomi. Pertumbuhan ekonomi dan demokrasi politik tidak dapat meraih potensinya kecuali setengah dari perempuan dalam sebuah komunitas berpartisipasi sejajar dengan laki-laki.

Visi jangka panjang Yunus adalah untuk mengeliminasi kemiskinan di dunia. Visi tersebut tentunya tidak dapat hanya diwujudkan dengan sarana kredit mikro saja, tetapi Muhammad Yunus dan Grameen Bank telah membuktikannya, bahwa untuk usaha yang berkelanjutan untuk mencapai hal tersebut kredit mikro harus memainkan peran utama.

Rumah Prefabrikasi

Rumah prefabrikasi (disingkat prefab) adalah rumah yang kontruksi pembangunannya cepat karena menggunakan modul hasil fabrikasi industri (pabrik). Komponen-komponennya dibuat dan sebagian dipasang oleh pabrik (off site). Setelah semuanya siap, kemudian diangkut ke lokasi, disusun kembali dengan cepat, sehingga tinggal melengkapi utilitas (utility) serta pengerjaan akhir (finishing). Dengan demikian, beberapa manfaat seperti waktu konstruksi yang cepat, lingkungan pembangunan yang lebih bersih, dan biaya yang lebih murah, dapat diraih. Karena biasanya berdasar atas modul, maka keleluasaaan pemilihan disain pun menjadi terbatas pada apa yang telah tersedia. Namun ini tidak mengurangi minat pasar untuk terus menggunakannya.

Dibalik fakta yang dijelaskan di atas, konotasi kata prefabrikasi saat ini mengalami perubahan. Era sebelumnya rumah prefabrikasi hanya mengandung terminologi: material terbatas, massal dan hibrid pada suatu lokasi, moduler, panel, fabrikan (manufactured), dengan sistem semi-fix (pre-engineered system). Namun kini, terutama di Jepang, rumah prefab tak ada bedanya dengan rumah-rumah biasa: materialnya beragam bahkan high-tech end, tidak harus massal pembangunanya (fleksibel sesuai kebutuhan), dan bersifat permanen. Faktor terakhir ini (budaya berumah) tak lepas dari perjalanan sejarah industri perumahan di Jepang sendiri.

Perkembangan Rumah Prefabrikasi

Definisi rumah prefab di dunia sangat beragam. Di Amerika atau Canada rumah prefab lebih dikenal sebagai manufactured house yang bertumpu pada struktur baja, mengikuti mobile home atau caravan sebagai rumah dinamis yang menjadi pendahulu untuk hampir empat abad lamanya (sebutan lain adalah portable house prefab). Ini juga tidak lepas dari proses produksi manufactured house yang 85% di antaranya harus diselesaikan di dalam pabrik, atau masih dibedakan dengan modular house sebagai rumah prefab. Data tahun 1996, 24% konsumsi rumah baru di Amerika adalah rumah keluaran pabrik ini (3% di antaranya adalah rumah prefab moduler).

Kasus di Eropa (terutama negara-negara baltik) dan Jepang berbeda lagi. Rumah prefab hanya mempunyai satu definisi. Yaitu sebagai rumah dengan modul tertentu dan dibangun layaknya rumah biasa (dari satu lantai sampai low rise house). Bedanya adalah sebagian dari komponennya banyak yang diselesaikan di pabrik. Beberapa kalangan mengelompokkan pendefinisian ini ke dalam dwellhouse prefab dan telah menjadi bagian dari budaya berumah di negara-negara tersebut. Setelah perang dunia kedua, dengan banyaknya proyek rehabilitasi permukiman atau pembangunan massal, rumah prefab banyak menjadi pilihan karena kecepatan pembangunannya dan murah. Kayu banyak digunakan sebagai pilihan utama material bangunan karena sifat fleksibiltiasnya (menyangkut teknologi pada saat itu).

Dari kayu ini, saat ini material bangunan untuk rumah prefab sudah sangat beragam, seperti beton pracetak (precast concrete), baja ringan (light gauge-steel), kayu lapis (timber framed) dan beragam materi mutakhir lainnya. Dari produksi massal, saat ini masyarakat bisa memilih rumah-rumah prefab itu secara individu dengan hanya memilih disain di katalog atau ruang pamer (housing plaza) dan beberapa modifikasi yang dimungkinkan. Rumah akan berdiri dalam waktu pengerjaan (construction time) tak lebih dari sebulan setelah semua syarat (termasuk tanah tentunya) tersedia.

Daiwa House dan Sekisui House yang telah lama bergerak dalam bisnis real estat sejak awal tahun 1960-an, yang diikuti Mitsui House dan Misawa Home, telah menggunakan konsep rumah prefab untuk produk-produknya sejak awal. Dengan mempercepat jangka waktu konstruksi dan pengerjaan di lokasi, kualitas terkontrol di pabrik, maka beberapa masalah yang berhubungan dengan biaya konstruksi dan gangguan terhadap lingkungan saat konstruksi sedikit banyak bisa tereduksi. Selain itu respon terhadap isu berkeberlanjutan mulai lebih diperbarui dengan pemanfaatan material-material bangunan ramah lingkungan (eco friendly materials), seperti penggunaan bahan-bahan daur ulang (recycled materials) dan sistem fisika bangunannya pun lebih bertumpu pada solar atau hybrid power system

Meskipun terdapat keterbatasan disain (minimalis) pada disain rumah prefab, namun pada kenyataannya produksi rumah prefab di Jepang (termasuk untuk ganti model) menunjukkan kecenderungan naik akhir-akhir ini (dari tahun 1991-2000 tiap tahun terdapat pembangunan sekitar 1.2-1.5 juta rumah prefab ini, JREI, 2000). Peran pemerintah, dalam hal ini Pemerintah Jepang dalam mendorong pengembangan rumah prefab sebagai bagian dari metode memperbanyak jumlah rumah layak bagi masyarakat pun berperan besar. Faktor mahalnya harga tanah dan bangunan menjadi faktor penghambat masyarakat memiliki rumah, terutama bagi keluarga muda. Mereka yang memilih tinggal di pinggiran kota atau kota-kota kecil lah yang dibidik sebagai konsumen rumah prefab ini. Mereka lebih memilih hidup di atas rumah sendiri meskipun kecil. Persis seperti ungkapan Frank Gehry, seorang arsitek dunia dalam merespon perkembangan rumah mungil prefab ini, “The problem with the younger generation is that no-one is interested in making monuments”.

( taken from : Muhammad Sani Roychansyah, staf di Jurusan Arsitektur dan Perencanaan FT UGM, saat ini sebagai Postdoctoral Research Fellow pada Department of Architecture and Building Science, Tohoku University, Sendai, Jepang.
E-mail: sani@hjogi.pln.archi.tohoku.ac.jp )

Mobil Hibrida

Lahirnya konsep mobil hibrida bertujuan untuk mengendalikan laju penggunaan bahan bakar minyak (BBM) yang menghasilkan gas CO2. Gas buangan hasil pembakaran kendaraan bermotor memberikan kontribusi 20% dari total gas buangan pemakai energi fosil. Kondisi ini memberikan pengaruh terhadap kerusakan lingkungan. Teknologi mobil hibrida ini sangat diharapkan karena memiliki efek berkurangnya emisi CO2 ke lingkungan.

Dimulai pada tahun 1970 Toyota melakukan terobosan teknologi baru dengan mobil hibrida. Teknologi hibrida Toyota ini berkembang pesat dengan dikeluarkannya produk mobil menggunakan Toyota Hybrid System (THS), antara lain THS seri C untuk minivan Estima dan THS seri M untuk sedan Crown. Pada tahun 2003, Toyota kembali merilis versi baru THS -II untuk sedan Prius

Tidak mau kalah dengan Toyota, perusahaan lainnya juga merilis mobil berteknologi hibrida ke pasaran. Honda merilis Honda Insight tahun 1999 dan Civic hibrida pada tahun 2003, dan selanjutnya dengan produk terbaru Honda Accord tahun 2004. Beberapa perusahaan lainnya juga merilis produk mobil hibrida, seperti Ford dengan Escape SUV hibrida, dan Nissan dengan sedan Altima-nya, dan masih banyak lagi.

Teknologi hibrida ini sebagaimana namanya, adalah sebuah teknologi yang mencangkok atau menggabungkan dua sumber energi mobil dari BBM dan listrik yang dihasilkan dari motor elektrik. Selain itu tidak menutup kemungkinan teknologi ini adalah gabungan penggunaan energi baterei dan energi dari motor elektrik atau antara energi lainnya. Kombinasi sumber energi untuk teknologi hibrida akan mewarnai teknologi eco-car di masa datang.

Jenis sistem hibrida

Sistem hibrida yang diterapkan oleh beberapa industri mobil bisa dibagi menjadi tiga, yaitu sistem hibrida seri, sistem hibrida paralel, dan gabungan sistem hibrida seri dan paralel

Sistem hibrida seri (1 motor dan clutch). Sistem hibrida seri adalah menggunakan engine (mesin) dan satu motor, dimana mesin menghasilkan daya untuk menggerakkan motor elektrik. Tenaga dari motor ini digunakan untuk menggerakan roda (WD, wheel drive) dan mengisi cadangan arus listrik di baterei. Ketika diperlukan tambahan tenaga (torsi) untuk menyalib atau menanjak, motor listrik akan berkerja dengan mendapatkan tenaga dari mesin dan baterei.

Sistem hibrid paralel (mesin dan 1 motor). Sistem ini adalah sistem hibrida dimana mesin dan motor elektrik yang tersambung dengan power/drive train bekerja bersamaan secara paralel. Motor elektrik akan bekerja saat mesin memerlukan tambahan torsi, seperti ketika saat menyalip atau ketika tanjakan. Sistem ini diterapkan di mobil produksi Honda.

Sistem gabungan hibrida seri dan paralel (mesin dan 2 motor). Sistem gabungan ini adalah versi advance dari kedua sistem di atas. Mesin dan motor dapat bekerja bersama-sama atau bergantian sesuai dengan kondisi kebutuhan torsinya. Mesin akan menggerakkan WD dan mengisi beterei. Sedangkan motor memiliki fungsi yang sama dengan mesin, untuk menggerakkan WD ketika diperlukan dan berfungsi mengisi arus baterei. Sistem ini digunakan oleh Toyota dan Ford.

Pada sistem hibrida seri maupun paralel, fungsi motor adalah sebagai cadangan dan memberi tambahan tenaga saat diperlukan, sehingga konsumsi BBM mobil ini tidak jauh berbeda dengan mobil mesin biasa. Hanya, ketika memberikan akselerasi penuh dan jalan menanjak, terasa kenyamanan mobil yang memakai sistem ini.

Sementara sistem paralel atau 2 motor, meskipun konsumsi BBM-nya paling irit, akan tetapi percepatan mobil terasa lambat saat full aksel atau jalan menanjak. Mobil hibrida tipe seperti ini hemat dan nyaman untuk kendaraan dalam kota.

Ketiga sistem hibrida seperti telah dijelaskan sebelumnya masing-masing ada kelabihan dan kekurangan sesuai dengan penggunaan mobil. Untuk perjalanan dalam kota, karena banyaknya traffic jam (rambu lalu lintas) menyebabkan frekuensi penggunaan rem dan aksel tinggi, maka sistem hibrida seperti Toyota Prius akan sangat menguntungkan. Konsumsi BBM untuk Toyota Prius tercatat paling irit, yaitu sekitar 38 km/liter.

Sementara untuk perjalanan antar kota, perjalanan jarak jauh di jalan tol, atau perjalanan naik turun yang melalui pegunungan, sistem hibrid seperti Honda Accord lebih menguntungkan. Hal ini disebabkan pengemudi tidak terlalu lelah karena seringnya menginjak pedal gas dan rem.

(taken from Dr. Marsudi Budi Utomo, Senior Staf Shindengen Electric Japan, Peneliti ISTECS Jepang, dan Ketua PIP PKS Jepang)

Profesor Termuda AS adalah WNI

Nelson Tansu meraih gelar Profesor di bidang Electrical Engineering di Amerika sebelum berusia 30 tahun. Karena last name-nya mirip nama Jepang, banyak petinggi Jepang yang mengajaknya “pulang ke Jepang” untuk membangun Jepang. Tapi Prof. Tansu mengatakan kalau dia adalah pemegang paspor hijau berlogo Garuda Pancasila. Namun demikian, ia belum mau pulang ke Indonesia . Kenapa?

Nelson Tansu lahir di Medan , 20 October 1977. Lulusan terbaik dari SMA Sutomo 1 Medan. Pernah menjadi finalis team Indonesia di Olimpiade Fisika. Meraih gelar Sarjana dari Wisconsin University pada bidang Applied Mathematics, Electrical Engineering and Physics (AMEP) yang ditempuhnya hanya dalam 2 tahun 9 bulan, dan dengan predikat Summa Cum Laude. Kemudian meraih gelar Master pada bidang yang sama, dan meraih gelar Doktor (Ph.D) di bidang Electrical Engineering pada usia 26 tahun. Ia mengaku orang tuanya hanya membiayai-nya hingga sarjana saja. Selebihnya, ia dapat dari beasiswa hingga meraih gelar Doktorat. Dia juga merupakan orang Indonesia pertama yang menjadi Profesor di Lehigh University tempatnya bekerja sekarang.

Thesis Doktorat-nya mendapat award sebagai “The 2003 Harold A. Peterson Best ECE Research Paper Award” mengalahkan 300 thesis Doktorat lainnya. Secara total, ia sudah menerima 11 scientific award di tingkat internasional, sudah mempublikasikan lebih 80 karya di berbagai journal internasional dan saat ini adalah visiting professor di 18 perguruan tinggi dan institusi riset. Ia juga aktif diundang sebagai pembicara di berbagai even internasional di Amerika, Kanada, Eropa dan Asia .

Karena namanya mirip dengan bekas Perdana Menteri Turki, Tansu Ciller, dan juga mirip nama Jepang, Tansu, maka pihak Turki dan Jepang banyak yang mencoba membajaknya untuk “pulang”. Tapi dia selalu menjelaskan kalau dia adalah orang Indonesia . Hingga kini ia tetap memegang paspor hijau berlogo Garuda Pancasila dan tidak menjadi warga negara Amerika Serikat. Ia cinta Indonesia katanya. Tetapi, melihat atmosfir riset yang sangat mendukung di Amerika , ia menyatakan belum mau pulang dan bekerja di Indonesia . Bukan apa-apa, harus kita akui bahwa Indonesia terlalu kecil untuk ilmuwan sekaliber Prof. Nelson Tansu.

Ia juga menyatakan bahwa di Amerika, ilmuwan dan dosen adalah profesi yang sangat dihormati di masyarakat. Ia tidak melihat hal demikian di Indonesia . Ia menyatakan bahwa penghargaan bagi ilmuwan dan dosen di Indonesia adalah rendah. Lihat saja penghasilan yang didapat dari kampus. Tidak cukup untuk membiayai keluarga si peneliti/dosen. Akibatnya, seorang dosen harus mengambil pekerjaan lain, sebagai konsultan di sektor swasta, mengajar di banyak perguruan tinggi, dan sebagianya. Dengan demikian, seorang dosen tidak punya waktu lagi untuk melakkukan riset dan membuat publikasi ilmiah. Bagaimana perguruan tinggi Indonesia bisa dikenal di luar negeri jika tidak pernah menghasilkan publikasi ilmiah secara internasional?

Prof. Tansu juga menjelaskan kalau di USA atau Singapore , gaji seorang profesor adalah 18-30 kali lipat lebih dari gaji professor di Indonesia . Sementara, biaya hidup di Indonesia cuma lebih murah 3 kali saja. Maka itu, ia mengatakan adalah sangat wajar jika seorang profesor lebih memilih untuk tidak bekerja di Indonesia . Panggilan seorang profesor atau dosen adalah untuk meneliti dan membuat publikasi ilmiah, tapi bagaimana mungkin bisa ia lakukan jika ia sendiri sibuk “cari makan”.

12 jan – 28 jan SOEHARTO. Pahlawan atau Selebritis ?

Boleh jadi di blognya mas Mahmah, sang legendaris yang dimaksud adalah Slank. Tapi di beberapa minggu ini seluruh media baik cetak maupun elektronik sedang gandrung-gandrungnya mempublikasikan “Detik-detik Terakhir” sang penguasa rezim Orde Baru, HM.Soeharto.
Siapa tidak kenal dengan eyang kakung kita ini, kekuasaannya yang hampir tanpa batas mampu mengantarkan beliau menjadi legenda di negara ini. Meski dilahirkan dalam keluarga petani sederhana, namun Mbah To mampu membuktikan bahwa semangat juangnya begitu tinggi terutama untuk berperan strategis dalam sejarah negeri ini.

Soeharto            

Dimulai dengan kiprah “krucuk”nya sebagai seorang klerek kecamatan yang kemudian dilanjutkan dengan menjadi salah satu anggota tentara Belanda dan salah satu anggota tentara PETA bentukan Jepang, keduanya dapat menaikkan reputasi sehingga dipercaya sebagai pimpinan dalam Serangan 1 Maret 1942 di Jogjakarta. Selang tidak lama kemudian, dengan beberapa “sulap selip” yang dimainkan pada Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar), akhirnya memuluskan jalannya untuk menjadi Presiden Republik Indonesia selama tidak kurang dari 3 dasawarsa. (kaleidoskop sengaja diringkas dengan tidak mengurangi penghormatan atas segala jasa di bidang lain)
Peran besarnya dalam mempertahankan Irian Barat, pencanangan Program Trilogi Pembangunan, serta masih terngiang di benak penulis pelajaran kelas 5 SD mengenai Repelita juga peran-peran lainnya dalam mengentas kemiskinan kaum marginal di negeri ini telah dilaksanankan. Sehingga tak heran lagi jika predikat Bapak Pembangunan pun jatuh ke tangannya.
Namun sayang sekali rakyat baru menyadari segala “kecerdikannya” dalam membonekakan negeri ini jauh berpuluh-puluh tahun setelah kekuasannya bertengger kuat. Itupun karena kaum garis tengah antara rakyat dan birokrat (mahasiswa.red) melakukan aksi akbarnya di tahun 98, menuntut penguasa rezim Orde Baru ini untuk segera turun dan diadili sesuai dengan tuduhan-tuduhan yang telah dijatuhkan kepadanya. Meskipun sebelumnya telah ada puluhan pergerakan signifikan seperti Tragedi Malari, Pergerakan Gerwani, Kudatuli, namun di saat itu apalah arti sebuah mulut bersuara. Yang ada adalah pembungkaman, penculikan, penyiksaan, pembunuhan. Demokrasi telah dikebiri.
Benar pula ucapan AM. Fatwa selaku “musuh bebuyutan” Mbah To semasa hidupnya bahwa Demokrasi Pancasila yang diterapkan Soeharto sifatnya lebih terpimpin dibandingkan Demokrasi Terpimpinnya Bung Karno.

soehartoKembali pada pergerakan rekan-rekan aktivis mahasiswa 98, masih terekam dalam di benak kita bagaimana sontak negeri ini menjadi gegap gempita menyambut lengser keprabonnya Mbah To.
Tak lama setelah “ngidek lemah maneh”, ternyata kesehatannya pun turut serta turun menemani. Setelah bolak-balik keluar masuk rumah pesakitan, akhirnya Jumat kemarin 11 Januari 08, tim dokter kepresidenan menyatakan kondisinya sedang dalam kekritisan.
Mendadak Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta menjadi lautan wartawan yang selalu siap sedia meliput perkembangan “pahlawan” pada penumpasan G30SPKI ini. Ratusan wartawan berikut “peralatan tempurnya” dari kamera, tripod dan segala tetek bengek lainnya turut diboyong. Dan ternyata hal serupa tidak hanya terjadi di RSPP, di kediaman Cendana, Dalem Kalitan Solo, Desa kelahiran Kemusuk, sampai Pemakaman Astana Giri Bangun pun tak beda jauh.

Pengajian tiap malam diadakan di Desa Kemusuk
Astana Giri Bangun lebih dipercantik
Bupati Karanganyar langsung menginstruksikan perbaikan tanah bekas longsor
Beberapa tenda sengaja dipesan lebih dini
Pasukan Kopassus mulai disebar terutama di Cendana
Para pejabat mulai sibuk pesan karangan bunga
dan mungkin tanpa sepetahuan kita
Mbak Halimah sibuk pesan cetakan surat Yasin dan katering pengajian (peace man!)

Hwarakadah !

Seolah semua sudah yakin bahwa tak lama lagi sang maut akan menjemput.
Sungguh tak sopan !
Berbagai pemberitaan yang terkait dengan beliau diungkap. Mulai kaleidoskopnya sepanjang sejarah Indonesia hingga kondisi kekiniannya hampir setiap 10 menit ditayangkan di semua stasiun televisi. Setiap pukul 5 sore tim dokter kepresidenan wajib melaporkan perkembangan medisnya. Setiap tamu, baik artis, pejabat negara, semuanya yang datang menjenguk otomatis menjadi “jubir medis mantan presiden”

Byuh…byuh…byuh !

Eh ndilalah lha kok…
Suatu pagi yang cerah liputannya muncul di Insert Pagi, Kiss,
Di suatu siang yang terik muncul di Insert Siang
Di suatu sore muncul di Insert Investigasi juga Cek&Ricek

Cie…cie…sudah jadi selebritis nih yee…

Bagaimanapun juga
Innalillahi Wa inna ilaihi roji’un.

S3

“Surem, surem, diwangkara kingkin lir mangaswa kang layon…”

*suram, suram, matahari yang duka seakan mencium sang mayat…”

DEG DEG SERR !!!

Jenenge Cak Sur nang Suroboyo cukup ngetop. Dokter umum sitok iku pasiene uakeh. Gak cumak obate ampuh, carane Cak Sur nangani pasien iku sing nggarai pasien seneng. Cak Sur iku dokter sing titen ambek pasiene. Kepethuk nang endi ae mesthi disapa.

Wingi sore Cak Sur nang supermarket. Ndilalah dokter nggantheng iku ketemu pasiene, Pendik. Pendik kenek darah tinggi. Wis seminggu ditangani Cak Sur jarene kok rodok lumayan. Cak Sur langsung njawil Pendik sing nyekel lengo goreng. “Yok opo, wis mudhun?” Cak Sur takok. “Mudhun yok opo. Tetep dhukur,” jare Pendik ngomel-ngomel. Cak Sur gak wani idhek-idhek. Wah… kok resepe gak manjur yo gawe ngudhukno tekanan darah. Wah… ojok-ojok metode lek ngobati salah. Cak Sur alon-alon metu. Kuwatir konangan wong liyo sing weruh lek cara ngobatine gak manjur blas.

Gak suwe Cak Sur weruh Ning Ya, pasiene sing kenek diabetes. Ning Ya blanja. Cak Sur nyapa grapyak. “Blanja, Ning?” “Lho, Pak Dokter,” Ning Ya seneng disapa Cak Sur. “Yok opo, Ning. Gulane wis mudhun? Saiki piro?” Cak Sur nakoki kadhar gulo darahe pasiene. “Mudhun? Yok opo se, Dok, gak iku,” jare Ning Ya. “Saiki gulane piro?” Cak Sur takok setengah kuwatir. Kok kadar gulane gak mudhun blas. “Saiki Rp 7.500. Padhahal wingi Rp 7.300,” jare Ning Ya.

Oalah… regone gula ta. Cak Sur langsung ayem. Opo maneh bareng weruh Pendik ngomel nang kasir. “Lengo goreng kok gak mudhun-mudhun regone.”

 

Nggonane Cak Harianto | Sidoarjo