12 jan – 28 jan SOEHARTO. Pahlawan atau Selebritis ?

Boleh jadi di blognya mas Mahmah, sang legendaris yang dimaksud adalah Slank. Tapi di beberapa minggu ini seluruh media baik cetak maupun elektronik sedang gandrung-gandrungnya mempublikasikan “Detik-detik Terakhir” sang penguasa rezim Orde Baru, HM.Soeharto.
Siapa tidak kenal dengan eyang kakung kita ini, kekuasaannya yang hampir tanpa batas mampu mengantarkan beliau menjadi legenda di negara ini. Meski dilahirkan dalam keluarga petani sederhana, namun Mbah To mampu membuktikan bahwa semangat juangnya begitu tinggi terutama untuk berperan strategis dalam sejarah negeri ini.

Soeharto            

Dimulai dengan kiprah “krucuk”nya sebagai seorang klerek kecamatan yang kemudian dilanjutkan dengan menjadi salah satu anggota tentara Belanda dan salah satu anggota tentara PETA bentukan Jepang, keduanya dapat menaikkan reputasi sehingga dipercaya sebagai pimpinan dalam Serangan 1 Maret 1942 di Jogjakarta. Selang tidak lama kemudian, dengan beberapa “sulap selip” yang dimainkan pada Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar), akhirnya memuluskan jalannya untuk menjadi Presiden Republik Indonesia selama tidak kurang dari 3 dasawarsa. (kaleidoskop sengaja diringkas dengan tidak mengurangi penghormatan atas segala jasa di bidang lain)
Peran besarnya dalam mempertahankan Irian Barat, pencanangan Program Trilogi Pembangunan, serta masih terngiang di benak penulis pelajaran kelas 5 SD mengenai Repelita juga peran-peran lainnya dalam mengentas kemiskinan kaum marginal di negeri ini telah dilaksanankan. Sehingga tak heran lagi jika predikat Bapak Pembangunan pun jatuh ke tangannya.
Namun sayang sekali rakyat baru menyadari segala “kecerdikannya” dalam membonekakan negeri ini jauh berpuluh-puluh tahun setelah kekuasannya bertengger kuat. Itupun karena kaum garis tengah antara rakyat dan birokrat (mahasiswa.red) melakukan aksi akbarnya di tahun 98, menuntut penguasa rezim Orde Baru ini untuk segera turun dan diadili sesuai dengan tuduhan-tuduhan yang telah dijatuhkan kepadanya. Meskipun sebelumnya telah ada puluhan pergerakan signifikan seperti Tragedi Malari, Pergerakan Gerwani, Kudatuli, namun di saat itu apalah arti sebuah mulut bersuara. Yang ada adalah pembungkaman, penculikan, penyiksaan, pembunuhan. Demokrasi telah dikebiri.
Benar pula ucapan AM. Fatwa selaku “musuh bebuyutan” Mbah To semasa hidupnya bahwa Demokrasi Pancasila yang diterapkan Soeharto sifatnya lebih terpimpin dibandingkan Demokrasi Terpimpinnya Bung Karno.

soehartoKembali pada pergerakan rekan-rekan aktivis mahasiswa 98, masih terekam dalam di benak kita bagaimana sontak negeri ini menjadi gegap gempita menyambut lengser keprabonnya Mbah To.
Tak lama setelah “ngidek lemah maneh”, ternyata kesehatannya pun turut serta turun menemani. Setelah bolak-balik keluar masuk rumah pesakitan, akhirnya Jumat kemarin 11 Januari 08, tim dokter kepresidenan menyatakan kondisinya sedang dalam kekritisan.
Mendadak Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta menjadi lautan wartawan yang selalu siap sedia meliput perkembangan “pahlawan” pada penumpasan G30SPKI ini. Ratusan wartawan berikut “peralatan tempurnya” dari kamera, tripod dan segala tetek bengek lainnya turut diboyong. Dan ternyata hal serupa tidak hanya terjadi di RSPP, di kediaman Cendana, Dalem Kalitan Solo, Desa kelahiran Kemusuk, sampai Pemakaman Astana Giri Bangun pun tak beda jauh.

Pengajian tiap malam diadakan di Desa Kemusuk
Astana Giri Bangun lebih dipercantik
Bupati Karanganyar langsung menginstruksikan perbaikan tanah bekas longsor
Beberapa tenda sengaja dipesan lebih dini
Pasukan Kopassus mulai disebar terutama di Cendana
Para pejabat mulai sibuk pesan karangan bunga
dan mungkin tanpa sepetahuan kita
Mbak Halimah sibuk pesan cetakan surat Yasin dan katering pengajian (peace man!)

Hwarakadah !

Seolah semua sudah yakin bahwa tak lama lagi sang maut akan menjemput.
Sungguh tak sopan !
Berbagai pemberitaan yang terkait dengan beliau diungkap. Mulai kaleidoskopnya sepanjang sejarah Indonesia hingga kondisi kekiniannya hampir setiap 10 menit ditayangkan di semua stasiun televisi. Setiap pukul 5 sore tim dokter kepresidenan wajib melaporkan perkembangan medisnya. Setiap tamu, baik artis, pejabat negara, semuanya yang datang menjenguk otomatis menjadi “jubir medis mantan presiden”

Byuh…byuh…byuh !

Eh ndilalah lha kok…
Suatu pagi yang cerah liputannya muncul di Insert Pagi, Kiss,
Di suatu siang yang terik muncul di Insert Siang
Di suatu sore muncul di Insert Investigasi juga Cek&Ricek

Cie…cie…sudah jadi selebritis nih yee…

Bagaimanapun juga
Innalillahi Wa inna ilaihi roji’un.

S3

“Surem, surem, diwangkara kingkin lir mangaswa kang layon…”

*suram, suram, matahari yang duka seakan mencium sang mayat…”

2 responses to “12 jan – 28 jan SOEHARTO. Pahlawan atau Selebritis ?

  1. Ya jelas ada 2sisi pada diri pak Harto walaupun dia berbuat salah namun banyak jasa-jasanya

    ‘”Suatu pagi yang cerah liputannya muncul di Insert Pagi, Kiss,
    Di suatu siang yang terik muncul di Insert Siang
    Di suatu sore muncul di Insert Investigasi juga Cek&Ricek”
    Suka acara gosip juga ya !!!

  2. wah, nama saya kok disebut2 ya?
    saya ndak ikut2 lho.hehehe… .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s