Category Archives: Uncategorized

2 hari bersama bemo (bagian pertama)

Begitu tahu pagi itu semua sepeda motor laris manis dipakai masing2 penduduk rumah, akhirnya hari itu saya ngalah naik bemo dari rumah ke kampus. Ada perasaan senang yang membuncah (halah), akhirnya keinginan saya buat mbemo keturutan juga. Sejenak langsung terbayang masa-masa suram SMP-SMA ketika harus mbemo pulang pergi setiap hari 🙂

 

Hari itu saya memilih untuk naik Lyn TV Ngesong-Joyoboyo dan oper lagi Lyn P Joyoboyo-Gebang. Aaah…saya yakin hari ini pasti akan menyenangkan sekali.

Perjalanan dengan Lyn TV awalnya biasa-biasa saja, hingga di Dukuh Kupang seorang bapak naik dan duduk di sebelah saya. Beberapa saat si bapak curi-curi pandang ke arah saya (ting.ting!). Dan krn saya ngga pgn ngasih respon, jd saya biarkan saja si bapak bermain mata (he9x jahatnya).

Tiba-tiba…beliau ngajak ngobrol. Klise. Menanyakan mau kemana, kuliah dimana, oper bemo apa, dan diperlengkap dengan pengenalan dirinya sendiri tanpa saya minta (huahaha).

Awalnya cukup excited ngobrol dengan si bapak, karena dari ceritanya menyiratkan kalau beliau tipikal orang high spirit. Beliau seorang tenaga medis untuk penyembuhan asam urat dengan metode akupuntur. Pekerjaannya menuntut dia berpindah dari satu tempat ke tempat lain yang berjauhan-tergantung permintaan pelanggan. Tapi (dari binar matanya. ceilah!) bapak itu tetap bersemangat menajalani hari-harinya.

Good. Saya suka 😉

Sampai pada akhirnya beliau bertanya, “Mbak, sudah punya pacar?”

 

DIENG !!!

 

Sejurus saya mengeluarkan gelagat tidak bersahabat karena virus ’tidak nyaman’ langsung menggerogoti sekujur tubuh. Entah mengapa saya mengeluarkan cara tercepat untuk meyelamatkan diri dengan menjawab singkat.

”Sudah punya pak” (ting.ting! mbujuk pisan)

Dan beliau menjawab, ”Ooohh..sudah punya ya..hmmm”

Lalu tiba-tiba si bapak berbangga diri, ”Anak saya yang pertama sudak kerja di Rumah Sakit X. Gajinya sebulan 1,9” (trus opo’o?)

Saya hanya meringis sambil menggumam, ”Hm..ya..ya..ya” sambil terus mendengarkan kisah keberhasilannya mendidik anaknya.

 

Semakin mendekati Terminal Joyoboyo, si bapak semakin gencar mempromosikan keunggulan anak lelakinya yang masih bujang sambil berharap cemas saya mau memutuskan ”pacar bayangan” saya dan berpaling pada putranya.

Bah! Metode sales apa lagi ini.

Pertanyaan berikutnya membuyarkan lamunan saya. Beliau menanyakan sesuatu yang membuat saya semakin memutar otak untuk kesekian kali

”Boleh dong mbak minta nomer hapenya…biar nanti kalo ada kerabatnya yang kena asam urat bisa langsung saya tangani” (yee..bilang aja mau jodohin anak bapak)

(saya cuma bisa mesam-mesem sambil memandang ke arah luar, berharap si bapak memahami bahasa tubuh saya)

 

”Berapa mbak nomer hapenya, biar saya catat”

 

(O-M-G…what should i do God?)

Aaah..langsung saja saya ambil alih kekuasaan si bapak.

“Gini aja pak, saya catat nomer hape bapak, nanti kalau ada perlunya bisa langsung saya hubungi” (dan si bapak pun mengeja nomor telpon rumahnya)

Sang supir bemo sangat bersahabat. Bemo tepat dihentikan di terminal selesai saya mencatat nomer hape si bapak.

Haaahhh…usai mencatat saya langsung kabur. Eh lha koq…

 

“Ndak usah buru-buru, mbak” (Ya Tuhan, si bapak pun sama mengambil langkah seribu juga). Otomateeeeesss…saya pun melambatkan langkah kaki demi menghargai si bapak. Namun ternyata…beliau masih gencar menyerukan promo putranya sambil sesekali memuja dan memuji kecantikan saya (dari sekian hal di atas, hanya ini yang bisa saya terima dengan ikhlas)

“Anak saya itu ganteng lho, mbak. Ngga neko-neko. Pengertian sama keluarganya. Pasti cocok sama mbak.”

(emh..koen Sar…emplok’en)

”Bapak mau oper lyn apa lagi setelah ini? Saya mau permisi duluan, buru2 mau menghadap dosen di kampus. Monggo pak…”

”Oh..monggo, mbak”

 

 

*ngaciiiiiiiiiiirrrrrrrrrrrr……………………………*

 

 

 

 

Iklan

1 Januari 2009

Selamat datang 1 Januari 2009. Aku anggap ini tahun keberuntungan karena diakhiri dengan angka 9.(he9x, analisa yang tak berdasar)

Fiuhhh…akhirnya 2008 terlewati juga.

Sebel yang pertama muncul ”berarti umurku mau 23 tahun ini”. Bah! Pengenku kan 17 selamanya (ha9x)

 

Pertama2, (macam sambutan pak RT saja) perkenankenlah saya mengucapkan rasa syukur yang begitu mendalam kepada Sang Rabb, The Only One Almighty in this entire universe, atas segala sesuatu yang telah dilimpahkan, dicurahkan, dan dianugerahkan meski kadang dengan paksa sampai kadang gak kuat nanggung sendiri beban hidup ini (hiperbola), demi pengembangan jati diri seorang Sari. Kamsya…kamsya…

 

Selanjutnya, saya ucapkan terima kasih berat kepada kedua orang tua saya yang hingga hari ini diberikan kekuatan maha dahsyat untuk menghidupi anak-anak perawannya. Saya mohon dengan sangat di tahun ini, jangan lagi menanya2kan siapa calon suami saya, kapan saya menikah, dimana tinggal setelah menikah, bla..bla..bla. Saya pastikan akan mendapatkan calon yang super duper tuepat bagi kelangsungan hidup saya dan bangsa  kelak.

(ps. Warning ini berlaku bagi seluruh anggota keluarga besar)

 

Yang ke-tiga, masih ucapan terima kasih kepada seluruh pengisi lembar-lembar kehidupan saya yang namanya tidak perlu dicantumkan karena akan menimbulkan perang mulut, perang saudara, perang angkatan dan bahkan perangai yang tidak baik dari masing2 pelaku. Jadi cukuplah saya singkat begitu saja.

 

Yang ke-empat, saya mohon maaf yang sebesar2nya terhadap pihak-pihak yang pernah tersakiti oleh saya. Terutama ”saudara ehm..ehm”, ”mister you know who”, ”no name”, dan para penggemar2 lain. Dan permohonan maaf paling berat saya sampaikan kepada “Saudari ehm-ehm”, “Miss you know who” dan seabreg teman2 yang terdzolimi…hanya dua kata, maaf dan menyesal.

The last, not the least…

 

Selamat datang dua ribu sembilan.

 

 

(oiya, terima kasih untuk “nelayan Bugis” yang bersedia melaut di detik-detik akhir 2008 hingga masuk 2009)